Career · Kids & Parenting · Tips · Working Mom

Happy Working Mom : Tips & Tricks

workingmom1

Menjadi working mom ataupun working at home mom adalah pilihan. Ingat….PILIHAN. Tidak ada yang memaksa kita menjadi seperti apa kita sekarang bukan?

Jadi jangan merasa galau dengan kondisi yang kita jalani. Nikmatin… kalau di media sosial rame topik soal ibu bekerja di kantor versus ibu bekerja di rumah, ngga usah ambil pusing apalagi dimasukin ke hati. Orang lain sah-sah aja menulis opininya, kita pembaca ngga perlu baper juga. Toh kita sebagai pengendali utama perasaan dan perilaku kita kan?

Daripada debat kusir yang ngga ada habisnya dengan keadaan bahwa ‘saya begini dan saya begitu’ lebih baik kita maksimalkan kondisi kita supaya lebih efektif dan manfaatnya maksimal, baik buat kita pribadi, lingkungan sekeliling kita dan terutama buat keluarga.

Saya seorang working mom yang telah bekerja selama kurang lebih 10 tahun. Menjalani kondisi seperti ini ya saya syukuri. Sebetulnya jauh di lubuk hati terdalam ada keinginan untuk bekerja di rumah saja supaya bisa selalu bersama anak, tapi saat ini belum bisa terealisasi karena ada hal-hal yang memang belum memungkinkan untuk bisa begitu. Tapi… saya tetap berupaya mencari celah mana yang bisa saya maksimalkan agar bisa memberikan support terbaik buat keluarga. Misalnya melalui hal-hal berikut.

1. Menjadikan Anak-anak Sarjana S2 ASI

Sukses memberikan full ASI kepada dua orang anak dengan kondisi kerja berangkat pagi dan sampai di rumah malam hari adalah suatu kebanggaan tersendiri dan memberikan rasa percaya diri bahwa dengan status pekerja kantoran, kita pun bisa memaksimalkan ikhtiar menjadi seorang Ibu yang memenuhi kebutuhan bayinya.

Hal-hal Penting Bagi Ibu Pekerja Kantoran Agar Sukses Melewati Masa Menyusui

  • Pertama: Komitmen diri sendiri dan keyakinan bahwa kita bisa memberi full ASI kepada bayi. Sesuai aturan Undang-undang Ketenagakerjaan, bahwa cuti melahirkan diberikan selama 3 bulan, ini artinya  saat usia bayi 3-4 bulan kita sudah harus kembali ke kantor. Maka persiapan mental perlu dilakukan supaya tahap ASI Eksklusif (masa 6 bulan pertama) bisa dilalui dengan baik.

600px-breastfeeding-icon-med-svg

  • Kedua: Support lingkungan terutama keluarga inti: suami, ortu dan mertua. Bila perlu, sejak hamil, suami (bahkan ortu dan mertua) cekoki dengan bacaan tentang ASI. Intinya siy menyamakan mindset soal ASI ekslusif dulu. Karena saat kembali ke kantor, bayi ngga full terawasi oleh kita, mana tau ada keluarga yang tentunya dengan niat baik, tau-tau ngasih makan pisang atau ngasi susu kaleng ke bayi kan… (ini soalnya kejadian di temen saya di mana tanpa sepengetahuan dia,bayinya yang masih 3 bulan dikasi makan pisang).

*Inget banget jaman hamil dulu saya sampai kumpulin majalah dan artikel-artikel tentang ASI, diprint lalu kasih ke suami untuk dibaca. Kalau pas di rumah mertua suka sengaja ditaroh di tempat strategis biar kebaca (dan….berhasil..) 😀

theexpert

  • Ketiga: Jadikan suami sebagai breatsfeeding dad. Tugas utama Ibu setelah melahirkan adalah kembali pulih dan menyusui. Jadi suami harus bisa menjadi tim sukses ASI Eksklusif dengan menjadi breastfeeding father. Caranya, selain memberikan support mental ke istri, juga dengan mengkondisikan dan mengambil alih tugas-tugas mengurus bayi lainnya misalnya: menghangatkan dan memberikan ASI perah ke bayi, mencuci dan mensterilkan botol dan alat pumping. Termasuk mau bergantian mengganti popok bayi dan menidurkannya kembali saat tengah malam. Supaya istri ngga kurang tidur, jadi ASI bisa maksimal. Malam-malam saat menyusui juga suami ikut bangun entah sekedar menemani begadang atau sambil memijat punggung istri dan membuatkan susu hangat. Teamwork tetap jalan meskipun Istri telah kembali bekerja di kantor. Selama di kantor istri memerah ASI, sampai di rumah tugas suami yang memindahkan ASI perah ke freezer, lalu mencuci dan mensterilkan alat pumping. Suami juga kudu mengecek kondisi batre breast pump (kalo menggunakan breastpump electric), sampai menurunkan ASIP ke chiller yang akan diminumkan ke bayi besoknya.

a_colorful_cartoon_father_feeding_his_son_a_bottle_royalty_free_clipart_picture_101219-173536-828053

  • Kelima: Manajemen Waktu. Penting untuk mengetahui kapan saat yang maksimal ASI perah keluar dengan deras. Di waktu-waktu itulah lakukan pumping ASI untuk stok. Misalnya saat tengah malam saat bayi sedang tidur, subuh sebelum bayi bangun untuk menyusui, dan saat di kantor tentunya. Trik ala saya dulu, saat bayi menyusui sebelah kanan, sambil pumping payudara sebelah kiri (saya menggunakan breastpump electric). Karena setelah saya amati, ASI  ternyata ikut mengalir deras dengan sendirinya saat sedang meyusui di satu sisi. Jadi saya manfaatkan timing tersebut untuk memaksimalkan stok ASIP.

schedule

  • Keenam: Kelola stress dengan baik dan positive thinking selalu. Kadang karena lebih banyak waktu yang kita habiskan di kantor ketimbang di rumah, kita sering merasa was was kekurangan ASIP. Enjoy mom, pikiran positif bahwa produksi ASI kita akan selalu cukup buat bayi justru akan memicu produksi ASI yg maksimal, dan sebaliknya yang terjadi kalau kita selalu kuatir. Saat sedang ada masalah di kantor atau kerjaan overload, sempatkan refreshing baik dengan kumpul atau jala-jalan bersama keluarga dan teman-teman ataupun dengan menyempatkan diri bersantai sejenak melakukan kesenangan alias ‘Me Time’.

images

2. Menjadikan Anak Selalu Merasa Dekat dan Butuh Ibunya

Ngga bisa dipungkiri bahwa dengan status sebagai working mom, frekuensi bertemu dengan anak-anak tidak seintens bila kita bekerja di rumah saja. Oleh karenanya, yuk kita berupaya memaksimalkan waktu pertemuan dengan anak-anak supaya bisa lebih berkualitas.

Quality Time Ala Ibu Pekerja Kantoran

  • ‘No gadget time’ saat bersama anak di rumah. Berada seharian di kantor pastinya selalu ada kesempatan buat ber-gadget ria, entah untuk mengecek email masuk, ngobrol di WA group, dst. Jadi saat di rumah yang waktunya lebih sedikit sebaiknya kita maksimalkan bersama anak. Inget yaa.. bersama anak di sini means… seuruh jiwa dan raga kita fokus ke anak, bukannya raga bersama anak tapi pikiran dan konsentrasi ke media sosial :p.  Enaknya sih buat komitmen juga dengan suami untuk tidak main gadget kecuali ada hal-hal urgent. Biar ngga tergoda untuk ngecek-ngecek HP, matikan notifikasi BBM, WA dan seterusnya.

*Untuk bisa konsisten menerapkan ini buat saya masih menjadi pe er sih (hehe..) karena (mungkin) sudah terlalu terbiasa dengan gadget, rasanya gatel kalo dalam sekian jam ngga buka chat di WA, buka Facebook, Instagram, atau sekedar googling baca berita (hiks..)

index

  • Lakukan bounding activity. Sentuhan fisik bisa mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Misalnya lewat kegiatan mendongeng atau baca buku bersama rutin setiap malam sebelum tidur: dengan cara memangku anak. Bacakan buku ringan yang sarat dengan nilai-nilai moral dan agama. Menurut para ahli, kesempatan yang paling baik untuk menanamkan values kepada anak adalah saat menjelang dia tertidur.

bed-time
*Saking udah jadi kebiasaan, anak-anak biasanya ngga mau tidur sebelum dibacakan buku oleh saya. Menyenangkan sekali rasanya kalau anak masih ‘bergantung’ sama bundanya. Artinya, ada hal-hal/aktivitas  yang tidak dapat digantikan oleh orang lain (termasuk ayahnya) :p

  • Jadilah temannya. Pulang kantor rasanya pengen langsung selonjoran atau leyeh-leyeh di rumah, tapi anak malah ngajak main. Lakukan aja meski cuma sebentar. Kadang-kadang juga kita perlu memposisikan diri sebagai anak kecil, ikut tiduran di lantai, tiarap, main boneka, robot-robotan, atau ikut dalam permainan pura-pura yang mereka ciptakan sendiri. Intinya bikin anak happy-lah. Biasanya capek langsung hilang lho kalo udah main dan ikut tertawa bareng mereka. Menjadi teman anak bisa juga dengan mendengarkan curhat mereka. Bisa dimulai dengan menanyakan: hari ini di sekolah seneng? cerita dong ngapain aja tadi seharian. Jangan lupa: ngobrol-nya dengan eye-contact ke anak yaa… jangan ngobrol kalau kitanya sedang melalukan aktivitas lain. Kata pakar, kalo hal ini biasa dilakukan sejak kecil, saat anak-anak dewasa nantinya mereka akan terbiasa bercerita tentang hal apapun ke orang tuanya, seperti halnya curhat ke temannya.

8c94d4f3a297

  • Hugging Time. Pelukan bisa melepaskan hormon endorfin yang membuat tubuh merasa nyaman dan rileks, termasuk pada anak. Sempatkan waktu untuk memeluk anak sekitar 20 detik setiap harinya, bisa pada saat bangun pagi dan menjelang tidur malam, dan di waktu-waktu lain saat bermain. Termasuk saat anak sedang menangis, marah dan mengamuk, biasanya kalau kita langsung memeluk, tangis dan marahnya akan reda. Itulah efek pelukan 😀

*anak-anak saya pernah curhat sambil bilang gini: ‘Bun, aku sedih banget hari ini. karena pas aku bangun pagi bunda udah ke kantor, dan bunda lupa belum meluk aku’. Langsung meleleh dengernya T_T.

timthumb-php

Well, segitu dulu tips and trick menjadi happy working mom ala saya, yang intinya adalah bahwa biarpun waktu kita seharian berada di kantor, tapi kebutuhan anak akan ‘keberadaan’ ibunya tetap terpenuhi dan pertemuan dengan anak selalu berkualitas. Barangkali ada tips dan trick lain pengalaman moms semuanya, feel free to share di sini yaa…

Cheers n keep fighting ^^

*

Baca juga :

Picture Credits:

One thought on “Happy Working Mom : Tips & Tricks

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s