Posted in Career, Working Mom

Dan….Momok Bagi Working Mom Adalah….

truth-being-working-mom-desk-2160x1200

Di edisi HWM (Happy Working Mom) kali ini saya pengen curhat menulis tentang momok yang terjadi di kalangan working mom seperti saya.

Momok itu ibaratnya sesuatu yang menakutkan dan membuat para WM (working mom) sering galau dan merasakan dilema dengan posisi pekerjaan yang dijalani.

Dulu saat kuliah semester akhir, sebagian dari kita, yang perempuan, mungkin berangan-angan ingin berkarir di perusahaan ternama, dan melanjutkan studi setinggi-tingginya. Begitu lulus dan diterima bekerja sesuai cita-cita, rasanya luar biasa bangga dengan pencapaian itu. Tahun-tahun pertama berkarir dilalui dengan perasaan senang, enjoy karena punya kesempatan untuk mengaktualisasikan diri seluas-luasnya.

Tiba masanya menikah dan kemudian hamil lalu punya anak, sebagian perempuan tadi (termasuk saya) tiba-tiba mengalami masa perubahan tujuan hidup. Semula orientasinya adalah aktualisasi diri di dunia kerja dengan berkarir dan melanjutkan studi, mendadak semua angan-angan tadi menguap. Sebagian memutuskan untuk berhenti bekerja dengan alasan mengurus anak dan keluarga, sisanya masih bisa bertahan, di mana yang bertahan bisa tetap enjoy berkarir, tapi ada juga yang bertahan namun dengan kegalauan yang berkecamuk setiap saat. Kenapa? Karena suatu hal yang bernama.. risiko. Risiko berkarir. Seperti hal – hal berikut.

1. Kesempatan Promosi

Tidak semua orang ternyata menganggap bahwa kesempatan promosi itu hal yang positif. Setidaknya itu yang saya alami dan sebagian teman2 saya sesama bankers.

Siapapun yang diterima bekerja di perusahaan melalui jalur MT (Management Trainee) atau ODP (Officer Development Program) adalah suatu keberuntungan. Karena jalur tsb merupakan rute express yang disiapkan perusahaan untuk kaderisasi calon2 leader perusahaan mereka. Setiap lulusan MT/ODP ini sudah bisa memprediksi kapan dia akan naik jabatan. Dan hal ini yang menjadi salah satu momok bagi para WM.

Naik jabatan alias promosi artinya harus siap dipindahkan dari posisi eksisting-nya saat ini. Sukur-sukur kalau masih dalam kota yang sama. Perusahaan-perusahaan yang memiliki kantor cabang yang banyak dan tersebar luas di berbagai kota, pastinya membutuhkan leader untuk ditempatkan di sana. Jadi, terkadang demi menghindari risiko pindah kota ini, para WM pun rela ngga dipromosikan alias level jabatan stuck selama masih bisa bertahan di kantor yang sekarang.

2. Menjalani LDM (Long Distance Married)

Sebagian WM mungkin mengalami hal ini, di mana karena kepentingan perusahaan, harus hidup berjauhan, terpisah kota atau bahkan terpisah pulau dengan suami dan atau dengan anak. Ini juga menjadi momok utama kegalauan para WM. Tapi jangan tanyakan kenapa mereka dan saya masih bertahan dan ngga resign aja kalau terus2an galau hehe… masing-masing dari kamu punya alasan personal yang mungkin ngga bisa dipahami orang lain.

3. Urusan ART (Asisten Rumah Tangga)

Memilih status menjadi WM tentunya harus siap mendelegasikan tugas-tugas rumah dan anak ke ART. Mencari ART juga bukan perkara yang mudah ternyata kalau melihat kenyataan bahwa setiap habis lebaran pasti ramai chat di grup ibu-ibu bekerja yg mengeluhkan ART ngga kembali atau tiba-tiba minta berhenti. Dalam 7 tahun menikah saja, ART saya sudah 9 kali ganti. Alasannya macam-macam, ada yang karena menikah, sudah tua dan ngga kuat lagi harus mengasuh batita, sakit, tidak diijinkan ortu dan suaminya dan ada 1 orang yang memang sengaja saya pecat.

ART jaman sekarang pun rasanya berbeda jauh dengan ART di jaman kita masih kecil dulu. Mereka umumnya lebih loyal dan bisa bertahan sampai puluhan tahun. (Contohnya Mbok yang ngasuh saya dari TK, masih bertahan ikut ortu saya hingga sekarang saya sudah punya anak 2,yaah..meskipun dia udah ngga bekerja aktif lagi karena sudah tua, cuma sekali-sekali datang ke rumah bantuin kalo lagi ada hajatan).

4. Memilih Sekolah Anak

Karena ada kemungkinan mutasi dan promosi tadi, maka acara memilih sekolah anak juga masuk dalam daftar momok para working mom. Bisa menetap sekian tahun di kota yang sama adalah rejeki yang luar biasa disukuri. Karena terkadang mau ngga mau, hanya dalam waktu  dua atau tiga tahun, mesti pindah kota lagi dan artinya sekolah anak juga ikut pindah kalau dia ngikut ibunya.

Ada 2 efek akibat pindah sekolah ini. Pertama, mental si anak yang belum tentu mudah beradaptasi dengan lingkungan baru (kita aja pindah ke kantor baru butuh waktu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kantor, apalagi anak-anak). Kedua, biaya sekolah yang sudah telanjur dibayar. Apalagi dengan semakin mahalnya biaya masuk sekolah saat ini, mau daftarin anak sekolah aja rasanya ketar ketir. Bukan soal biaya masuknya, tapi was-wa udah bayar uang masuk berjut jut dan ternyata beberapa bulan ke depan dimutasi, wassalam deh duitnya. Memang sih ada kebijakan perusahaan yang memberikan tunjangan pindah sekolah anak, tapi sejauh ini yang saya lihat tidak mengcover seluruh biaya yang sudah kita keluarkan (fiuh..). Eh itu kalo di perusahaan tempat saya bekerja ya… entah kalo di perusahaan lain.

*Dan sampai hari ini anak pertama saya sudah mengalami pindah sekolah 2 kali. Meski masih level play group dan TK, tapi  bulan-bulan pertama masuk ke sekolah baru pasti di awali dengan drama dan acara mogok sekolah dulu sampai 2 bulan lamanya.

5. Pindahan

Pindah kantor dan pindah kota artinya harus pindah rumah. Oke, kantor memang memfasilitasi dengan rumah dinas dan tunjangan pindah, jadi ngga ada beban soal biayanya, tapi acara pindah rumah itu beberesnya luarrrr biasa. Merasakan 2 kali pindah kota dan pindah rumah membuat saya terbiasa dengan peralatan rumah minimalis alias seada-adanya. Tapi namanya hidup bersama anak-anak, beda dengan kalau kita tinggal sendirian ala bujangan atau anak kos. Peralatan hidup anak itu luar biasa banyaknya. Mau ditinggal sayang, kalau dibawa juga akhirnya jadi beban soal beberesnya.

*Biasanya habis pindahan, saya butuh waktu 2-3 bulan untuk membereskan dan menempatkan smua barang-barang dalam rumah Biasanya saya biarin aja tetap dalam kardus. Pas butuh baru bongkar (ini males atau apa ya…:p ).

Yah..begitulah  momok utama kami working mom berdasarkan hasil obeservasi di grup-grup chat sesama bankers. Pokoknya selama hal-hal tadi masih bisa dikompromikan dengan keluarga, semangat 45 untuk tetap berkarir masih ada. Sampai tiba masanya mentok dan ngga ada solusi yang bisa diambil, kami pastinya akan mengibarkan bendera putih dan kemudian berganti status 😀
Kalau ada yang berkenan menambahkan galau-galaunya ibu bekerja apa saja, silakan komen  di bawah yaa…

Cheers n Keep Fighting ^^

.

picture credit : http://www.thebump.com/a/working-mom

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s