Career · Working Mom

Long-Distance Married: Survival Guide Perspektif Working Mom

Awal memutuskan untuk berkarir di perusahaan yang sekarang, sebetulnya saya udah paham konsekuensinya yang suatu waktu bisa dialami: pindah tugas ke luar kota.

Tapi namanya euphoria masa fresh graduate, diterima bekerja di perusahaan itu suatu anugrah. Dan risiko pindah-pindah itu rasanya masih jauuh di depan. Jalani aja dulu, liat gimana nanti. Simple.

Masa masih single rasanya apapun dijabanin. Penempatan di daerah, yang di mana baru pertama kali hidup di sana, tanpa kenalan, teman,apalagi sodara, santei… ngga ada beban. Challenging malah.

Sampai tiba masanya menikah, dan tetiba diberi rizki untuk menjadi calon ibu, dilema menjadi wanita karir pun muncul.

Masa kerja yang telah sekian tahun di suatu posisi,mengharuskan adanya mutasi, rotasi, promosi, dan sebagai konsekuensinya adalah siap dipindah ke unit kerja perusahaan yang bisa saja berada di kota lain.

Dan saya pun jadi paham dengan penelitian teman kuliah psikologi dulu yang mengambil tema kurang lebih tentang: Ketakutan akan sukses yang dialami wanita karir. Persis dengan yang saya dan sebagian teman-teman saya alami.

Pilihan akhirnya ada di tangan masing-masing. Ingin karir naik, siap dengan risiko pindah ke luar kota (karena posisi jabatan yang dituju hanya tersedia di sana, biasanya). Atau, bisa saja memilih “ngga usahlah naik jabatan, kayak gini aja asal masih bisa di ibu kota”.

Pindah luar kota kan artinya, keluarga akan ikut serta atau tetap stay di kota asal. Iyaa..kalau suami profesinya memungkinkan untuk ikut pindah siy ngga akan jadi pikiran. Kalo suami juga sama-sama berstatus karyawan, yang tidak memungkinkan untuk ikut pindah? Artinya bersiaplah menjalani LDM alias Long-Distance Married. Simalakama kan..

Anggaplah segala ikhtiar untuk bisa bertahan di ibukota sudah maksimal, dan ujung-ujungnya memang  tetap harus pindah ke luar kota, sekali lagi masih ada pilihan di tangan masing-masing mau lanjut atau berhenti dengan segala konsekuensinya.

Oke, anggap resign bukan solusi saat itu dan mungkin mudharatnya bisa lebih banyak (hei..apa kabar dengan cicilan rumah yang diambil dengan joint income, misalnya :D). Mau tidak mau, suka ngga suka harus dijalani hidup dengan dua dapur. Suami di sana dan istri di sini, dengan harapan semoga hanya untuk sementara waktu. (baca juga tentang: Dilema Working Mom

Selanjutnya memutuskan soal anak apakah akan bersama suami di kota asal, atau ikut kita sebagai ibunya untuk hidup di kota lain. Pertimbangannya macam-macam. Sekolah otomatis harus pindah, pengasuh sukur-sukur mau ikut, kota di mana kita dinas memungkinkan ngga membawa serta anak, dst.

Kalau sudah diputuskan, sekarang pe ernya adalah bagaimana menjalani LDM ini dan bisa survive. Survive di sini artinya, hidup dengan tenang, pekerjaan lancar dan masalah apapun dapat teratasi.

Pengalaman 3 tahun menjalani LDM, di mana suami tinggal sendirian di ibukota dan saya bersama anak-anak plus ART moving ke luar kota, yaah…mungkin bisa lah jadi semacam survival guide buat yang juga mengalami hal yang sama, atau mungkin juga ada yang  berkenan menambahkan tipsnya, silakan. Yang ini versi saya:

1. Saling Percaya

Paling prinsipil ini siy kayaknya. Susah menjalani hidup LDM dengan damai kalo pikiran udah kemana-mana. Kalau dasarnya pasangan emang bisa dipercaya, insya allah tanpa dipantau tiap detik tiap menit juga akan aman-aman aja.

Jaga kepercayaan juga basic menjalani LDM. Meskipun berjauhan, saya tetap ijin atau minimal update info ke pak suami kalau mau ke mana pun di luar urusan kantor. Misal pulang kantor mampir makan bareng teman-teman, atau mampir ke mall atau apapun yang  urusannya after office hour dan saya ngga bisa langsung pulang.

2. Komunikasi is a must

Sesibuk-sibuknya dengan hidup dan pekerjaan masing-masing, harus selalu ada waktu untuk saling kontak. Mau urusan apapun yang penting kontekan. Mau cerita soal anak, nanya makan apa siang tadi, cerita soal pekerjaan, teman-teman atau bos di kantor, apapun. Posisikan aja kayak masih serumah, cuma ngobrolnya by phone atau video call.

3. Jadwalkan Kunjungan

Yaah..beratnya menjalani LDM salah satunya adalah berat di ongkos. Kalau jarak tempuh masih ada travel, atau bis sekian jam perjalanan, okelah.. tapi kalo harus pake kereta atau pesawat, ikhlasin ajalah gaji yang bakal diinvestasikan ke maskapai penerbangan atau kereta api tiap minggu atau tiap sebulan sekali.

Apalagi kalau pertimbangannya ingin ketemu anak-anak, ngga ternilai lah ya harganya. Jadi konsekuensi LDM juga memang harus mulai membatasi pengeluaran dan mengalokasikan buat beli tiket T_T.

4. Banyak-banyak Toleransi

Yup. Ternyataa… komunikasi hanya via phone atau video call, bahkan cuma chat via WA, jauh banget kalo dibanding dengan ketemu langsung. nyambungnya itu maksud saya. Miskomunikasi atau bahkan misinterpretasi kadang lebih sering terjadi.

Apalagi saat kontak kita lagi ngga melihat kondisi pasangan sedang kayak apa. Lagi sibuk kerjakah, lagi istirahatkah dan ga pegang HP, atau lagi mandi, atau apapun, sementara di saat yang sama kita lagi urgent butuh dia. Atau sebaliknya. Akhirnya kadang malah jadi sumber pertengkaran kecil, padahal cuma hal sepele.

Tapiii berdasarkan pengalaman, ribut-ribut kecil saat LDM itu pasti cuma sebentar-sebentar. Berdamainya lebih cepat daripada kalau masih serumah. Mungkin efek jarang ketemu, jadi rugi aja rasanya udah ketemunya cuma 2 hari dalam seminggu misalnya, dan malah saling diem-dieman wkwkw…

5. Gunakan waktu luang bersama anak, teman atau menjalankan hobi.

Kenapa? Hidup jauh dari pasangan jangan sampai bikin kita banyak diam atau kebanyakan waktu nganggur. Kalau hidup bersama anak masih okelah ada hiburan, pelipur lara. Kalo hidup sendirian, nanti bawaannya baper, namanya setan ya senengnya ngetes iman :D. Intinya siy bersenang-senanglah, nikmati waktu luang dengan kegiatan positif:  olahraga, gabung di komunitas bisnis, menambah teman-teman baru, dll.

Yaah…hidup kadang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Pilihan yang ada juga tidak selalu mudah untuk diambil meski kita punya peluang untuk menentukan jalan mana yang akan dilewati. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk kondisi long-distance married yang mungkin terpaksa harus dijalani. Pasti ada pelajaran dan pengalaman hidup di sana yang suatu saat akan kita syukuri kenapa kita menjalani itu.

Keep fighting ^^

Baca juga

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s