Posted in Education, Review

Pengalaman Bersekolah di GIS 2 Serpong

PicsArt_10-29-01.14.15

Setelah melewati masa hampir empat bulan bersekolah, rasanya cukuplah ya untuk menuliskan pengalaman saat anak di sekolahnya. Ini murni pendapat dari pengalaman pribadi yang saya dan suami rasakan, melihat perilaku anak, dan observasi di lingkungan. kalau ada yang beda pendapat, ya wajar hehe..

Dengan berbagai pertimbangan pada bulan Februari lalu, setelah survey ke beberapa sekolah, akhirnya saya dan suami memutuskan memasukkan anak ke GIS 2 Serpong.

Pertimbangannya sebagai berikut :

  1. Jarak tempuh rumah – sekolah hanya sekitar 4 km (sekitar 15 menit kalau pakai mobil). Jadi harapannya anak ngga akan kecapean di jalan setiap hari. Err…sekolah lain juga deket – deket siy jaraknya, masih dalam seputaran BSD juga. Cuma ada pertimbangan kedua.
  2. Sekolah islami. Menurut kami, sedini mungkin anak harus ditanamkan /diajarkan soal agama. Pondasi keislamannya harus kuat dulu. Sekolah harus sejalan dengan misi kami mendidik anak di rumah, misalnya: belajar sholat, mengaji, sholat tepat waktu, dan nilai – nilai keagaamaan lainnya. Eh, sekolah yang di sempat kami survei juga  ada beberapa tuh yang masuk kategori islami. Lalu, kenapa memilih GIS? Jawabannya di nomer 3.
  3. Biaya. Yup! Sesuaikan dengan kemampuan pastinya. GIS ini masih lebih terjangkau biayanya dibanding sekolah lain yang sempat kami survei. Selain biaya masuk, paling penting yang jadi pertimbangan adalah: SPP bulanan. Sekolah lain hampir 2x lipat dari GIS uang SPP-nya.

Baca juga Berapa Biaya Sekolah Dasar di BSD Tangsel Tahun Ajaran 2017/2018?

Oiya penting untuk moms ketahui adalah komponen biaya sekolah ya. Ada yang SPP-nya lebih tinggi, tapi ternyata kalau dihitung biaya selama sekolah 6 tahun di sana, secara total bisa lebih kecil lho dibanding sekolah yang SPP-nya lebih murah. Bisa baca di sini Bagaimana Membandingkan Komponen Biaya Sekolah? Mari Cek GIS versus ICM-Serpong

Oke, pertimbangan kami berikutnya adalah:

4.  Billingual School. Kenapa ini menjadi penting, karena bahasa Inggris rasanya udah wajib banget dikuasai di jaman sekarang. Dan bagi anak-anak generasi alfa (generasi yang lahir mulai tahun 2010) ini, kelak bahasa Inggris akan jadi bahasa ibu kedua mereka. Gampangannya siy, biar ga keteteran aja nanti kayak ortunya yang pas SMP baru mulai belajar bahasa Inggris, itu juga ngga fasih – fasih amat ngomongnya.

Itu tadi 4 poin yang menjadi bahan pertimbangan memilih GIS buat si kakak. Banyak faktor sih ya yang bisa jadi pertimbangan, termasuk soal sreg ngga dengan lingkungan sekolahnya, guru – gurunya, komunitas ortunya, dll. Makanya menurut saya survey sekolah lumayan penting supaya kita yakin dengan sekolah yang dipilih.

Baca juga: Tips Survey Sekolah Anak

Selanjutnya saya mau cerita soal pengalaman si kakak dan kami, ortunya, di 3 bulan pertama bersekolah. Saya bagi poin per poin biar enak ceritainnya.

FASILITAS SEKOLAH

Sekolah ini bikin saya dan suami nyaman sebagai orang tua, melepas anak saya seharian di sana. Kelas ber-AC (yang dilengkapi dengan PC, LCD projector, sound system), lantai kelas yang bersih (jadi anak – anak masuk kelas tanpa sepatu), ada washtafel di depan kelas dan di beberapa titik area sekolah, toilet yang bersih (ini paling penting karena anak lebih dari setengah hari berada di sekolah), jumlahnya banyak, bahkan pihak sekolah menempatkan petugas khusus di area toilet untuk bersih – bersih setiap saat. Oiya, toilet boys dan girls terpisah ya.

20170710_072132
Ruang Kelas 1
20171020_114416-2016x1512
Area wudhu dan toilet boys

Fasilitas lainnya menurut saya hanya sebagai bonus aja (bukan faktor utama) seperti aula, lapangan futsal, lapangan basket, GOR, perpustakaan yang nyaman, tempat wudhu yang keren (boys dan girls terpisah), kolam renang serta ruang ganti, masjid dalam area sekolah, halaman sekolah yang luas dan tidak terlalu panas karena banyak pepohonan, dan kendaraan antar jemput. Mengenai kendaraan antar jemput, karena kami ngga pakai jadi belum bisa saya ceritakan. Tapi yang saya lihat kendaraannya bagus dan nyaman buat anak dan hanya ada driver tanpa helper di dalam kendaraan.

20171020_114357-2016x1512
Area Wudhu
20171020_111017-1612x1209
Masjid Sekolah

KURIKULUM

GIS 2 Serpong menggunakan kurikulum nasional plus, di mana antara lain tidak ada pe- er buat siswa (Underlined dan bold: TIDAK ADA PR hehe…), tidak ada sistem rangking, bahasa pengantar bahasa Inggris. Tapi saya lihat untuk kelas 1, guru masih sesekali berbahasa Indonesia, jadi anak yang belum terbiasa berbahasa Inggris (seperti anak saya) ngga keder di sana dan masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Ada yang beropini bahwa dengan biaya GIS sejumlah itu, rasanya sayang karena kurikulum masih nasional plus dan bukan internasional. Tapi bagi kami, sayang bayar mahal untuk kurikulum internasional saja kalau tidak dibarengi dengan pendidikan keagamaan. Menanamkan pemahaman agama sedari dini itu justru yang jauh lebih ‘mahal’. Mungkin belajar agama di sekolah saja tidak cukup, dan porsi lebih banyak adalah di rumah. Tapi minimal apa yang kami ajarkan di rumah juga sejalan dengan apa yang anak terima di sekolah.

METODE PENGAJARAN

Jam belajar dimulai pukul 07.30 s.d 13.30 kecuali hari Jumat hanya sampai jam 13.00. Setiap pagi, siswa kelas 1 dibiasakan solat dhuha di kelas sebelum jam pelajaran dimulai. Sholatnya sendiri – sendiri memang. Solat dhuhur juga masih dilakukan di kelas masing – masing secara berjamaah (karena kelas 1 masih tahap belajar gerakan dan bacaan sholat). Kecuali sholat Jumat, anak  kelas 1 ikut berjamaah di masjid sekolah.

IMG-20171012-WA0047-01
Sholat Dhuhur berjamaah di Kelas untuk Grade 1

GIS juga mentargetkan siswa untuk hafal juz 29 dan 30 sampai lulus SD. Metode yang diajarkan dengan gerakan, namanya metode qauny. Dan memang anak jadi lebih mudah hafal surat – surat pendek beserta terjemahannya.

Sekolah juga mengatur agar lunch time kelar pada saat waktunya solat dhuhur. Jadi yang saya lihat dari anak saya sejauh ini adalah, setiap mendengar adzan, bahkan di saat dia sedang asyik nonton TV atau main, langsung beranjak ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat. Itu salah satu hal luar biasa yang saya amati dari perkembangan si kakak sejak masuk SD ini, selain dia jadi lebih pede berbahasa Inggris.

Karena sekolah berbasis islam, sehari – hari anak diajarkan perilaku yang sesuai sunnah misalnya: mengucapkan salam, berdoa sebelum makan, makan dan minum sambil duduk (tidak boleh berdiri), hafalan doa – doa, dst. Yang rasanya belum tentu didapatkan anak kalau bersekolah di sekolah umum.

Setiap senin pagi ada penobatan “The Best Student of The Week dan  The Best Akhlak of The Week”. Kriterianya bukan dari nilai pencapaian akademis. Untuk The Best Student of The Week misalnya, kriterianya antara lain dari kematangan si anak yang biasanya belum mau berteman, tau – tau jadi bisa bersosialisasi di kelas, atau sudah mau menghabiskan bekal makan siang, dst. Err….ini untuk siswa kelas 1 sih ya… saya kurang paham kalau siswa lebih besar seperti apa kriterianya. Sedangkan kriteria ‘The Best Akhlak” antara lain diihat dari pergaulan sehari – hari seperti apa, pelaksanaan sholat 5 waktu, ngajinya, dst. Oh iya, ada buku Uji Kompetensi yang isinya berupa pemantauan hafalan, dan ibadah harian. Macam buku yang diisi siswa kalau pas bulan Ramadhan itu lho…kalau habis sholat dicentang, kalau ngga dilakukan di beri tanda strip atau silang.

20171022_083638-1512x2016

20171022_083530-1512x2016

EKSTRAKURIKULER

Ekstrakurikuler dimulai dari jam 14.00 s/d 15.00. Bidang ekskul yang ditawarkan: vokal/seni musik, menggambar, seni tari, basket, taekwondo, bulu tangkis, renang, science, futsal, wushu/kungfu, dan panahan. Biaya masuk sekolah belum termasuk ekskul. Si kakak ikut ekskul renang dan seni tari biayanya Rp. 600,000,- per ekskul per semester.

Oh iya, GIS juga memisahkan kegiatan renang siswa perempuan dan laki -laki di hari yang berbeda. Meskipun belum baligh, sedari kecil anak sebaiknya memang diajarkan hal tersebut.

IMG-20171026-WA0061
Eskul Swimming Kelas Girls

GURU – GURU

Saya cukup sering ke sekolah untuk antar jemput anak, bergantian dengan suami. Jadi, hampir setiap hari kami bertemu dengan para guru termasuk kepala sekolahnya. Yang saya lihat adalah, aura guru – guru di sana asik, energik dan bisa masuk ke dunia anak. Guru bisa memposisikan dirinya sebagai teman bagi siswanya, dan kelihatan sekali kalau anak juga nyaman berkomunikasi dengan gurunya. Ini penting siy buat psikologis anak, kalau mengingat jaman sekolah SD dulu, ada beberapa guru yang suka bikin saya lari atau menghindari bertemu karena terkenal galak dan suka marah ke murid :D. Dan akibatnya setiap menjelang pelajaran dengan guru itu bawaannya stress dan takut (ah..tapi tetap saja, bapak ibu guruku…jasamu tiada tara, smoga amal jariyah selalu mengalir buat Bapak Ibu semua).

Oh iya, dalam satu kelas ada 2 wali kelas dengan 21 orang anak. Jadi rasanya guru masih efektiflah untuk memperhatikan kondisi setiap murid – muridnya.

KOMUNIKASI ORANG TUA – WALI KELAS

GIS menggunakan buku komunikasi yang dibawa anak setiap hari. Jadi setiap informasi mengenai kegiatan sekolah, selalu dimasukkan dalam buku tersebut. Komunikasi juga dilakukan via Whatsapp group. Setiap hari, wali kelas selalu meng-update kegiatan baik dalam bentuk foto maupun video kegiatan siswa. Jadi, orang tua selalu terinformasi apa yang dilakukan anak – anaknya di sekolah.

SERAGAM

Soal seragam, untuk kelas 1 ternyata belum diwajibkan mengenakan seragam muslim atau kerudung bagi anak perempuan. Saya kurang paham kenapa-nya, tapi akhirnya anak saya pas fitting seragam sekolah, memilih seragam yang model non kerudung, yaitu kemeja lengan pendek dan rok sebetis. Tapi saat ada parents meeting di awal tahun ajaran baru, direktur GIS menyampaikan bahwa mulai Oktober mereka akan mewajibkan siswa perempuan menggunakan kerudung termasuk kelas 1. Dan Oktober ini GIS mulai membagikan/menukarkan gratis seragam muslim buat yang belum punya. Untuk anak laki – laki, seragam muslimnya berupa celanan panjang.

GIS juga menerapkan aturan kepada orang tua siswa yang berkunjung ke sekolah agar menggunakan busana muslim. Jadi meskipun tidak berkerudung, ibu – ibu tetap harus menggunakan penutup kepala.

Girls juga diminta memakai legging di dalam roknya. Mungkin supaya lebih sopan dan tertutup rapi saat anak – anak sedang main.

ORANG TUA MURID & KARAKTER SISWA

Saya menerima banyak pertanyaan mengenai ‘jenis’ orang tua murid di GIS. Konon katanya, kalau sekolah dengan biaya level menengah atas, komunitas orang tua agak mengkhawatirkan :D. Maksudnya kebanyakan sok borju, hedon, suka saling pamer, saingan barang – barang branded, dan itu juga kebawa ke anak – anak mereka yang akan saling memamerkan tas mahal, mobil mewah mereka, sepatu branded, dan akan membuat gap – gap di sekolah mana yang dianggap ‘selevel’ dengan mereka dan tidak.

Sejak awal ikut open house GIS, ikut parents meeting, dan selama mengikuti kegiatan anak – anak plus orang tua di GIS, saya belum menemukan ortu model hedon seperti yang ditanyakan orang – orang sih ya. Sejujurnya, saya pun awalnya kuatir akan mendapatkan lingkungan sekolah yang seperti itu, karena apalah saya ini yang ngga punya barang branded, mobil juga adanya merk sejuta umat, dan buat masukin anak ke sekolah ini juga biayanya dari tabungan bertahun – tahun. Saya juga ngga mau anak saya masuk ke lingkungan yang seperti itu karena sedikit banyak pasti akan mempengaruhi dia secara psikologis.

Sejauh ini alhamdulillah komunitas orang tua murid khususnya di kelas anak saya, saya kategorikan ‘aman’. Ibu – ibunya mau repot ngurusin anak – anak lain (yang ortunya bekerja seperti saya) saat ada event di sekolah, ngga sibuk ngobrolin liburan ke mana atau belanja di mana saat kumpul makan bareng, dan pastinya dari cara mereka berinteraksi baik secara langsung maupun di Whatsapp group sejauh ini bikin saya  nyaman, yang artinya saya cocok sama mereka 🙂

Perilaku dan gaya siswa (minimal teman sekelas si kakak) juga yang terlihat biasa, ngga ada anak-anak yang sibuk ngomongin barang-barangnya, pamer liburan ke mana. Kan katanya kalo gaya anak itu gimana ortunya yaa… alhamdulillah di GIS asiklah.

IMG-20171022-WA0123-01
Family Gathering plus Wali Kelas. Kompak kaan…?

Oke, segitu dulu ya review-nya. Poin paling penting dari semua hal di atas adalah, si kakak enjoy bersekolah, yang ditandai dengan : tiap pagi bangun dengan semangat berangkat sekolah, pulang dengan riang sambil berceloteh kegiatan seharian di kelas bersama teman – temannya, berulang – ulang bilang kalo sayang sama Mr dan Ms di kelas, dan akhir cerita selalu bilang: “Bun, aku sukaaaaa sekali sekolahku yang ini…”.

Semoga bermanfaat bagi moms semua yang sedang pilah pilih sekolah untuk anaknya. Selamat ‘berburu’ sekolah yaaa… 🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s