Career · Working Mom

The Truth About Being A Working Mom

16-11-17-09-28-12-893_deco

Menjadi working mom (and as a banker) itu menurut saya kayak naik roller coster.

Ada masanya nanjak ke atas dan deg-degan tapi happy, ada juga saatnya pas turun ngalamin stress lalu jejeritan, teriak kenceng tapi habis itu tertawa lega (bahkan nangis  lega juga ada..:D)

Setelah mengamati percakapan di berbagai grup chat, saya jadi kepikiran ingin membuat summary tentang fakta dan pengalaman yang dirasakan dan juga dinikmati para emak-emak bekerja seperti saya.

Dilema Anak Sakit

Saat anak sakit, rasanya pengen di rumah aja. Ngga tega rasanya ninggalin anak meski dijaga oleh neneknya atau ada ART. Tapi terkadang ngga semudah itu bisa dapat ijin atau cuti mendadak, dan akhirnya di kantor serba galau, kerja ngga tenang, sebentar-sebentar nelpon ke rumah nanya keadaan anak, pokoknya bawaannya keinget sama anak terus dan sampai bikin nangis juga.

Kalau dapat atasan yang pengertian, bisa dikasih ijin datang telat atau masuk setengah hari aja atau malah ada juga yang disuruh cuti. Tapi kalau dapat atasan killer, siap mental aja untuk ditolak mentah-mentah ijinnya dan malah diminta harus profesional memisahkan urusan rumah dan kantor. Wew..!

Jam Ishoma Ibarat Tiket Berlibur

Kalau di rumah, waktu istirahat yang benar-benar dipergunakan untuk ‘me time’ mungkin hanya saat anak sedang tidur (pengalaman kalau weekend atau lagi cuti). Tapi kalau si anak lagi masanya ngga bisa dan ngga mau tidur siang, rasanya kita kerja tanpa istirahat meski saat itu kita juga lagi ngga ada yang dikerjakan, tapi tetap harus mengawasi anak. Bener ngga?. Nah kalau WM, waktu ishoma ini alias istirahat, sholat, dan makan yang hanya 1 jam itu benar-benar saat yang paling dinanti dan dinikmati. bisa online dan main HP sepuasnya tanpa gangguan, atau sekedar leyeh-leyeh sambil tiduran di mushola kantor (yeay….)

Galau Melihat Rekan Kerja

Kadang kalau melihat rekan kerja yang belum punya anak atau belum menikah membuat kepala kita dihinggapi bermacam-macam asumsi. Iyalah dia bisa capai target karena belum ada beban tambahan di rumah, cuma fokus sama kerjaan. Lha kita? Atau kalau mereka pulang kantor masih menyempatkan diri kongkow-kongkow di cafe dan mall, kita berpikir : duh boro-boro ikutan nongkrong, kerjaan belum beres aja rasanya udah pengen buru-buru cuss ke rumah karena ingat anak. Belum lagi kalau lihat teman-teman kita bisa belanja-belanja karena belum ada biaya rutin bulanan, pergi liburan bareng rame-rame tanpa kuatir inget anak, body yang masih langsing, dan seterusnya.

Pulang Tenggo

Saat teman kantor masih berkutat dengan pekerjaannya, meski sudah waktunya pulang dan kerjaan kita udah kelar, rasanya suka ngga enak hati mau tenggo. Kalau ada yang usil komentar : ‘Ciee yang tenggo’ itu kadang bikin feeling guilty padahal ngga perlu merasa begitu toh kita ngga melanggar aturan. Cuma daripada jadi bahan omongan kalau keseringan tenggo, akhirnya terpaksa kita kadang belain ditelatin jam pulangnya padahal udah ga sabar pengen cepet-cepet meluk anak di rumah.

Virus Shopping

Kantor itu bisa jadi sumber atau lokasi penyebar virus shopping. Melihat si A pakai parfum branded yang aromanya enak, pengen ikutan beli. Si B woro-woro lagi ada sale di toko perlengkapan bayi, rame-rame diserbu. Bahkan kadang kalau lagi jalan bareng teman-teman kantor di mall, barang yang tadinya ngga butuh tau-tau merasa jadi butuh dan akhirnya beli. Di kantor saya kadang ada demo peralatan masak. Biasanya satu orang beli, yang lain jadi ikutan beli, dan nyatanya sebagian dari barang-barang yang dibeli itu hanya jadi penghias kitchen set di dapur alias ngga kepake (tunjuk muka sendiri).

Gajian Numpang Lewat

ehm…mungkin ini ngga semua mengalami ya..tapi (sekali lagi) based on hasil pengamatan di kanan kiri depan belakang saya, fakta ngga bisa ditampik. Emang siy sebagian working mom ada yang menikmati sendiri hasil gajinya, karena urusan rumah tangga, tabungan anak, cicilan rumah udah dicover dengan pak suami masing-masing.  Tapi sebagian working mom lain ada yang betul-betul merasakan gajinya hanya sehari dua hari nangkring di rekening, setelah itu wallahualam ke mana perginya. Ada yang masuk ke cicilan panci, arisan di beberapa kelompok, bayar kartu kredit, tagihan telpon, dst.

Meeting di After Office Hour

Sudah membayangkan akan tenggo dan segera bertemu anak di rumah, tau-tau ada pesan masuk di grup chat bahwa akan ada meeting yang waktunya sampai malam itu rasanya pengen teriak “Ya ampuuuun, kenapa jam segituuu???” sekencang-kencangnya. Apalah daya kita ini cuma pekerja, bukan direktur perusahaan, jadi mau ngga mau nurut aja. Buru-buru telpon si mbak di rumah ngasih tahu trus ngerayu anak biar ngga usah nunggu emaknya pulang dan tidur duluan aja.

ASIP dan Urusan Pumping

Working mom yang lagi menjalani masa menyusui dan pumping, kadang ngalamin ngga enak hati saat harus break sebentar dari kerjaan dan pumping yang biasanya butuh waktu 15 hingga 20 menitan itu. Simalakama juga soalnya, ‘nyuri’ waktu kerja buat pumping selama 2-3 kali setiap hari bisa bikin atasan atau rekan kerja sewot, tapi kalo ngga pumping, bikin kerja ngga nyaman juga karena rasa sakit akibat ASI yang penuh dan bawaannya pengen senggol bacok (mana tahan deh pokoknya). Alhamdulillah anak pertama dan kedua dulu saya berada di lingkungan kerja yang kondusif dan support ASI. Malah kalo lagi dikejar deadline  atau lagi meeting, teman-teman seruangan bahkan atasan yang ingetin ‘udah pumping blom?’

Balada End of Month (EOM) dan End of Year (EOY)

Bagi Working mom yang bankers atau bidang lain yang load kerjaannya memang di akhir bulan, masa EOM dan EOY itu sudah diperhitungkan, artinya pulang malam di akhir bulan dan akhir tahun itu sesuatu yang biasa. Jadi komitmen dengan bapak suami dan orang rumah bahwa saat akhir bulan atau tutup tahun ngga bisa diganggu gugat kalau istrinya pulang lebih malam dari biasanya.

Masalah ART

Ini persoalan klasik para working mom. ART sakit atau belum kembali dari kampung, udah pasti bikin kita kelimpungan. Kalau masih ada keluarga yang bisa dititipin siy lumayan, kalau ngga ada? terpaksa urusan kantor dikorbankan sementara sambil kompromi dengan suami siapa yang bisa cuti T_T

Pernah ART saya nambah ibur seenaknya. Komitmennya minggu malam sudah kembali ke rumah, nyatanya si mbak sms bilang kalo baru senin malam balik. Alhasil minggu malam sampai senin pagi jumpalitan ngatur apakah ngantor siangan aja setelah anak – anak dititipkan ke neneknya, atau  sms bos dan ajukan cuti mendadak. Pahit-pahitnya siy membawa anak ke kantor dan itu pernah saya lakukan hampir 2 bulan karena ART sakit typhus dan harus istirahat lama di kampungnya. Alhamdulillah bos care dan ngasih ijin ada anak-anak balita ikut ngantor 🙂

Suami Sakit

Atasan saya yang killer saat lagi meeting pernah bilang begini: “Saya sebetulnya males punya staf perempuan karena masalahnya terlalu banyak. Anak sakit, ijin ngga masuk. ART ngga ada ijin ngga masuk, eh..sampai suami sakit juga bisa ijin ngga masuk. Belum lagi kalau lagi menstruasi, minta ijin sakit juga.”  Kami ketawa kecut sih saat itu dan dalam hati mengiyakan. Ya habis gimana lagi, keberadaan perempuan itu memang  dibutuhkan qo, ya sama anak, termasuk suami. Ya kan? Ya kan?

Happy Friyay

Bagi working mom, Jumat adalah hari yang dinanti. Energi kerja di hari Jumat kadang double saking happy-nya. Membayangkan besok weekend 2 hari bakal stay di rumah ngumpul atau jalan bareng keluarga  aja sensasinya beda dengan kalau masih senin sampai kamis 😀

Masakan di Weekend

Biasanya selama hari kerja sebagian working mom sering makan siang di luar (meski kalau saya bertahun-tahun selalu bawa bekel sendiri siy…), jadi pas weekend berkeinginan untuk masak sesuatu yang beda dari hari-hari weekdays. Rencana sudah matang akan masak dengan nyontoh resep di internet, apa daya rasanya qo kepengen leyeh-leyeh. Jadilah akhirnya masak yang standar dan gampang aja kayak biasanya. Bahkan kalo saya, pas si mbak lagi ngga ada, pengennya bikin telor dadar atau ceplok plus sayur kangkung aja biar praktis, atau mentok-mentok ya goreng tempe tahu dan nyambel, biar sisa waktu yang ada kepake buat istirahat :p

Sindrom I Hate Monday (?)

Seperti kebanyakan pekerja kantoran, working mom juga merasakan sindrom I hate monday ini meski tidak dalam arti harfiah yang benar-benar benci dan malas ngantor di senin. Semacam masa transisi aja sih dari yang 2 hari liburan trus tau-tau besoknya mesti kembali masuk kantor. Yang bikin malas kadang senin itu identik dengan mendadak ‘sibuk banget’ atau ‘meeting pagi’ laporan ini dan itu ke atasan.

Jadi, ada hal lain lagi yang kamu rasakan saat menjadi working mom dan belum masuk list di atas? sharing yuk…

-Cheers n Keep fighting-

3 thoughts on “The Truth About Being A Working Mom

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s