Posted in Banking

Catatan Untuk Debitur (Part 2)

macet

Ini sambungan dari tulisan sebelumnya tentang debitur menunggak.

Belakangan kredit nunggak bahkan sampai macet (menunggak lebih dari 6 bulan) lagi marak (yaa.. minimal di cabang saya merasakan itu; saya ngga bahas skala nasional). Kredit macet ini pastinya ngga cuma bikin pusing debitur selaku nasabah peminjam, tapi kami, bankir, juga bisa sampai puyeng kalau kalau ngga punya kemampuan mengelola stress dengan baik.

Kenapa kredit macet bikin bankir mumet, kalian toh masih dapat gaji dari perusahaan?

Begitu (mungkin) anggapan sebagian debitur nunggak. Beberapa alasannya begini :

  • Kredit menunggak membuat bank harus menyisihkan pendapatannya sebagai cadangan yang istilah kerennya PPAP. Bukan Pen Pinapple Apple Pen, yaa…. Tapi Penyisihan Penghapusan  Aktiva Produktif. Jadi, setiap kredit yang dikeluarkan untuk debitur, bank menyisihkan 1 persen dari total kredit tersebut sebagai cadangan kerugian. Saat menunggak pertama kalinya sampai 90 hari tunggakan, bank menyisihkan 5% dari total kredit debitur sebagai cadangan dan secara otomatis mengurangi pendapatannya, demikian seterusnya 15% saat terjadi tunggakan lebih dari 90 hari, 25% saat  tunggakan lebih dari 120 hari, 50% untuk tunggakan lebih dari 150 hari dan 100% untuk tunggakan di atas 180 hari. Saat itu, kredit dinggap telah macet. Jadi bayangkan, kalau pinjaman 500 juta, maka cadangan kerugian yang dibentuk sebesar 500 juta. Artinya pendapatan atau laba bank akan berkurang sebesar 500 juta pula.
  • Makin besar pendapatan yang disisihkan akibat kredit macet, pendapatan bisa minus dan efeknya bank bisa rugi, minimal yang merasakan kerugian adalah di cabang yang banyak terdapat kredit macet tersebut. Dagang bakso aja harus mikir untung, masa iya bank sampai rugi alias labanya minus ?
  • Penanggung jawab atas setiap debitur yang nunggak dan macet adalah kami kami ini. Makanya harap dimaklumi kalau kadang kami ngga bosan-bosannya mengingatkan kalian via telpon,SMS, surat,bahkan disambangi ke rumah supaya membayar tunggakan. Tapi tenang aja… kami nagihnya juga secara baik-baik qo, dengan penuh perasaan dan kemanusiaan. Kenapa ?
images
Kami tidak seperti ini lho ya..

Bank sudah memperhitungkan risiko sejak mengucurkan kredit ke debiturnya, biasa disebut risiko bisnis. Namanya berbisnis pasti ada masa ups and downs-nya kan. Masa downs-nya itu mungkin bisa timbul  karena ada pembayaran yang telat dari pelanggan, penjualan sedang lesu,perubahan kebijakan supplier, kena musibah sehingga bisnis terganggu, dan faktor-faktor bisnis lainnya yang semuanya itu dapat dimaklumi oleh bank. Makanya bank juga sudah menyediakan kebijakan untuk membantu meringankan debitur yang usahanya sedang mengalami penurunan dengan kebijakan restrukturisasi.

Apabila proses restrukturisasi berhasil, yang indikatornya bisa terlihat dari debitur mampu membayar kewajiban setiap bulan (minimal di 3 bulan awal) sesuai komitmen saat proses restrukturisasi dilakukan, maka status pinjaman debitur bisa membaik, yang semula macet bisa berangsur – angsur lancar kembali.

Lalu, bagaimana kalau restrukturisasi gagal, yaitu debitur tidak mampu memenuhi kewajiban 3 bulan berturut – turut? Bisa dilakukan restrukturisasi kedua dengan melakukan perjanjian ulang antara debitur dan bank dengan menyesuaikan kemampuan usaha debitur. Jadi semacam membuat kesepakatan baru. Kalau ternyata masih belum bisa membaik, maka langkah selanjutnya debitur mau tidak mau harus menjual asset-nya untuk melunasi tunggakan atau bahkan mengurangi total pinjaman sehingga kewajban angsuran bulanan juga mengecil.

Terkadang yang terjadi adalah, debitur tidak berkenan menjual sebagian asset yang dimilikinya, sementara usaha sudah tidak bisa diharapkan sama sekali. Logikanya nih ya, sumber pemasukan sudah tidak ada lagi, sementara kewajiban di bank masih ada, ya memang mau ngga mau jalan keluarnya adalah menjual aset.

Bagaimana kalau usaha masih ada, apakah aset tetap harus dijual ?

past-due

Gini, secara aturan perbankan ada ketentuan yang mengikat berapa lama tunggakan itu bisa di’biarkan’ sambil menunggu kemampuan nasabah untuk menyelesaikannya sendiri. Yang perlu diketahui debitur adalah bank tidak bisa membiarkan tunggakan berlarut-larut tanpa ada solusi. Kredit yang dikeluarkan bersumber dari dana nasabah simpanan, dan harus dikembalikan pada bank. Jadi, ada masanya memang bank bersikap tegas ke debitur dengan meminta menjual aset supaya dapat mengembalikan dana pinjaman ke bank. Walaupun usaha debitur masih berjalan, kalau hasilnya sudah tidak dapat membayar kewajiban sehingga umur tunggakan masuk dalam kategori macet, penjualan aset adalah solusinya.

Penjualan Asset Seperti Apa yang Dimaksud ?

Apabila debitur memiliki beberapa aset bernilai yang bisa dijual, misalnya tanah, mobil, atau apapun, silakan saja. Tujuannya cuma satu, membereskan tunggakan sampai nol, atau sekaligus melunasi seluruh pinjaman di bank. Atau, kalaiu keberatan menjual aset, bisa dengan meminjam dari keluarga atau sumber manapunlah. Intinya tunggakan dibayar.

Bagaimana Kalau Tidak Ada Asset yang Bisa Dijual/Tidak diperoleh Sumber Pinjaman di Tempat Lain ?

Saat debitur mengajukan pinjaman khususnya kredit usaha, ada agunan yang diberikan ke bank berupa aktiva tetap (yaitu tanah atau tanah plus bangunan). Jadi, kalau status pinjaman sudah masuk kategori macet, maka harus dilakukan penyelesaian. Penyelesaian kredit ada 2 cara : penyelesaian secara damai berupa penjualan agunan di bawah tangan alias debitur sendiri yang menjualnya, atau penyelesaian secara hukum yaitu bank menjualnya melalui lelang di KPKNL atau Lembaga Lelang yang ditunjuk.

Bagaimana Apabila Nilai Agunan Jauh di atas Total Utang ?

Bila ini yang terjadi, maka hak bank terhadap hasil penjualan agunan tersebut adalah sebesar nilai Hak Tanggungan (HT), sedangkan sisanya diserahkan kepada debitur. Tentang Hak Tanggungan bisa baca di sini.

Bagaimana Kalau Agunan adalah Satu-satunya Asset dan Tempat Tinggal Debitur ?

Apapun alasannya, namanya utang tetaplah harus dilunasi. Jangan lupa di awal mengajukan pinjaman, debitur telah bersedia menjaminkan asset/tempat tinggalnya sebagai agunan. Di saat akad kredit di hadapan notaris pun telah dibacakan sejelas-jelasnya dan debitur juga tanda tangan, bahwa jika kredit sampai macet maka pihak bank berhak untuk melakukan eksekusi agunan. Jadi, memang hanya itulah langkah yang bisa dilakukan. Tentunya pada saat mengajukan kredit dan menyerahkan agunan, debitur telah mempertimbangkan konsekuensinya.

 

YANG PERLU DEBITUR KETAHUI TERKAIT PENYELESAIAN KREDIT MACET

  1. Ketahuilah bahwa pada dasarnya bank tidak ingin melakukan proses lelang agunan dalam rangka menyelesaikan seluruh kewajiban debiturnya. Kenapa? Penjualan melalui lelang cukup memakan waktu dan energi serta biaya yang tidak sedikit. Jadi, sebetulnya bank  lebih memilih penjualan agunan melalui bawah tangan alias debitur sendiri yang menjualnya.
  2. Penjualan agunan secara sukarela sebetulnya lebih menguntungkan bagi debitur,lho. Dengan menjual agunan sendiri dan melunasi sekaligus seluruh pinjaman di bank, biasanya bank dapat mempertimbangkan untuk memberikan keringanan berupa diskon bunga dan denda-denda. Berapa besar diskonnya? Itu tergantung judgement pejabat yang memutus. Sedangkan apabila agunan laku terjual melalui lelang, seluruh kewajiban termasuk bunga, denda, dll harus dibayarkan tanpa diberikan keringanan sama sekali. Jadi, pilih mana ?
  3. Tentang lelang, bank berhak melakukan lelang berkali – kali sampai agunan tersebut laku terjual. Yang perlu diketahui adalah, harga agunan di lelang berikutnya akan terus turun,lho.. misalnya harga pasar wajar atas rumah debitur senilai Rp 2 Milyar, di lelang pertama dipasang harga sesuai nilai pasar wajar. Jika belum laku, dapat dilakukan lelang ulang dengan menurukan harga misalnya menjadi Rp 1,8 M. Demikian seterusnya sampai laku. Makanya, proses lelang amat sangat tidak mengenakkan.
  4. Oiya, untuk sampai ke proses lelang ada tahapannya. Jadi memang bank tidak serta merta begitu saja melakukan lelang saat timbul tunggakan atas pinjaman. Jadi debitur tidak perlu kuatir bahwa bank secara tiba-tiba akan melakukan lelang. Biasanya akan ada Surat Peringatan sebanyak 3 (tiga) kali terlebih dahulu, termasuk pemberitahuan akan dilelang, supaya debitur bisa bersiap – siap.
deal
Kelihatannya serem yaa, tapi percayalah kami tidak sekejam itu

Segitu dulu kayaknya penjelasan mengenai kredit bermasalah alias menunggak. Semoga bermanfaat yaa…

 

Picture Credit : from google

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s