Posted in Random Thought

Supaya Rumput Tetangga Tidak Nampak Lebih Hijau

piclabstudio_01-29-09.40.54-1874241529.jpg

Beginilah efek hidup di jaman internet super kenceng. Siapapun jadi dengan mudah mengakses sosial media dan berekspresi di sana.

Mulai dari curhat galau, menulis opini tentang berbagai topik, update aktivitas harian, upload foto-foto perkembangan anak dan liburan ke luar negeri, keseruan di kantor atau kumpul bersama teman2, bahkan sampai berbisnis dengan model hard selling maupun soft selling.

Siapapun punya hak beraktualisasi dan menunjukkan eksistensinya di sana (baca: sosmed dan internet). Ada yang salah dengan semua itu? Menurut saya ngga. Sah-sah aja qo orang mau seperti apa. Hp atau laptop punya dia,  beli paket data juga pake duit dia. Sempat muncul hot topic di grup WA saya tentang kebiasaan orang mengupload foto dan menulis status yang membuat sebagian pembaca merasa inferior.

Yang memposting foto-foto kegiatan liburan ke luar negeri dianggap pamer, yang masang foto-foto lucu anaknya dianggap ngga berempati dengan yang belum punya anak, yang ibu rumah tangga menulis status tentang bahagianya bisa seharian di rumah bersama anak, dianggap mendiskreditkan para working mom, dst..dst.. ah sudahlah.. di sini saya pengen menulis tentang perspektif saya pribadi, bukan buat apa-apa, hanya dalam rangka introspeksi dan evaluasi diri semata. Persepsi orang lain mah ngga bisa kita kontrol, jadi biarkanlah…

Jadi gini, efek dari bisa berselancar di dunia maya tanpa buffering itu ternyata ada plus minusnya (minimal buat saya). Tiap saat bawaannya pengen online aja. Nganggur dikit, buka HP. Macet bentar, buka HP. Tadinya niat mau nyari info tentang suatu topik, tau-tau merembet masuk ke blog orang dan tau-tau jadi berpikir: waah..blognya keren..nulisnya jago..followers dan comment-nya banyak, udah ada iklan pula. Dan entah perasaan envy atau bukan tapi mbatin… blog ku masih sepi-sepi aja (ya iyalah…jarang nulis…:P) Itu satu.

Selanjutnya pengen tau lagi rame apa sih di facebook sekarang.. akhirnya jadi log in facebook lagi yang setelah sekian lama jarang diakses. Di timeline pertama muncul ibu memposting foto dan video anaknya yang udah bisa membaca dan ngomong bahasa inggris. Tiba-tiba jadi kepikiran: ih..seumuran ternyata sama anakku.. anaknya umur segitu progress-nya luar biasa. Dan lantas kepengen anakku juga masuk sekolah international biar bisa billingual dan cas cis cus ngomong bahasa Inggris. Itu dua.

Masih tentang timeline facebook, melihat foto teman-teman yang lagi kuliah S2 di sana dengan beasiswa, atau teman-teman yang berfoto eksis di luar negeri dalam rangka mendampingi suami yang sedang tugas belajar, tiba-tiba kepikiran: waah…enaknyaa… kapan lagi bisa merasakan tinggal di luar negeri, anak-anak juga jadi punya wawasan dan pengalaman yang lebih luas. Itu tiga.

Di timeline selanjutnya muncul lagi status teman yang kini full time berada di rumah dan bisa antar jemput anak-anaknya ke sekolah tiap hari. Muncul lagi pikiran: aah..aku kapan ya bisa kayak gitu alias resign..

Lalu masih ada lagi tentang teman yang fokus dan konsisten menuliskan tentang progress bisnisnya, nampaknya mereka sangat menikmati…dan lagi lagi di kepala seolah berkata: nah..lihat tuh…kalo konsisten menjalankan bisnis hasilnya bisa kayak gitu.

Masih ada waktu senggang dikit, keingat belum ngecek Instagram yang meski sebetulnya 60% isi following-nya adalah online shop. Di timeline muncul foto teman-teman yang asik kumpul-kumpul dengan geng-nya di cafe,atau resto, karokean dll. Selintas kepikir: aah…kapan ya aku trakhir kongkow sama teman-teman, belakangan kerjaan dan target kantor sedang menggila jadi ngga sempat ikutan ngumpul dan weekend juga lebih banyak dihabiskan di rumah main dengan anak-anak.

Geser ke bawah dikit muncul foto temen yang lagi liburan sampai ke luar negeri. Muncul lagi ide: enaknya bisa cuti dan punya banyak duit, jadi bisa berlibur kemana-mana.

Makin ke bawah, ada foto teman-teman yang selfie atau foto dengan barang-barang branded-nya. Lagi-lagi hati berbisik: pada cantik-cantik sih…fotonya enak dilihat smua, barangnya juga mahal-mahal..gilaa.. ngga sanggup dah kalo semua barang harus branded kayak gitu.

Yah..demikianlah efek internet dan sosmed yang melanda. Ada poin plusnya..minusnya juga ada tapi jangan sampai lebih banyak minusnya … 😛. Plusnya sih itu jadi semacam motivasi dan inspirasi buat kita, misalnya teman yang lulus beasiswa ke luar negeri karena punya manajemen waktu yang baik antara pekerjaan dan belajar untuk persiapan lulus TOEFL dan GMAT, atau kita terinspirasi melihat tulisan teman di blog, ternyata kuncinya karena dia rajin membaca.

Suatu hari saya sempat membaca di status teman yang isinya kurang lebih begini: jangan berandai-andai berada di posisi dan rejeki nikmat orang lain, kalo demikian, berandai-andai jugalah dengan sisi kehidupannya yang lain termasuk ujian dan cobaannya.

Sempat merenung: iya juga sih…kita pengen hidup enak seperti orang lain yang kita lihat di media sosial, padahal kita belum tentu mau berada di posisi dia andai kita tahu ujian kehidupan apa yang dialaminya. Orang pastinya akan menulis sisi kehidupannya yang indah dan positif, namun belum tentu demikian untuk bagian hidupnya yang berupa ujian atau cobaan. Orang cenderung akan menutup rapat dan menyimpan sendiri kegalauannya (meski ada sebagian orang yang anehnya mau mengumbarnya di media sosial..entah tujuannya untuk apa).

Ngobrol dengan beberapa teman lama, ada yang bilang: enaknya kayak kamu ya… punya jabatan dan penghasilan juga pasti mengikuti. Atau pengen ih bisa selangsing kamu, ngga kliatan udah punya anak 2, dst..dst…
Padahal dalam hati berkata: penghasilan gede tapi cicilan juga gede tauk, atau ih..kamu ngga tau aja kerjaan di kantor risikonya kayak apa, tiap akhir bulan stress 😀.
Nah kan… ternyata gini-gini juga adaa aja orang yang (mungkin) berharap ada di posisi kita yang sekarang. Nampak dari luar memang indah dan nikmat, andai mereka tahu bagian lainnya, mungkin mereka juga ngga akan mau. Yaa..rumput tetangga memang kadang terlihat lebih hijau.
Jadi, ngga bisa dipungkiri dan kayaknya manusiawi lah yaa.. kalau perasaan soal rumput tetangga yg lebih hijau itu kadang muncul selintas dalam benak kita. Yup…cukup selintas aja tapi..jangan lama lama dan jangan terus-terusan. Nanti bisa bikin kita lupa sama apa yang sudah kita punya. (Kufur nikmat kalo kata p Ustadz…naudzubillah).

Bagaimana biar ngga baper lihat rejeki orang lain ?

Nah… tips dari berbagai sumber supaya rumput tetangga ngga terus-terusan terlihat lebih hijau daripada milik sendiri, daan..demi bisa tetap up to date dengan yang terjadi di luar sana termasuk tetap nyaman berinteraksi dengan media sosial, adalah seperti ini:

  • Ingeeeeet selalu bahwa masing-masing orang ada rejeki dan ada ujiannya. Dia bisa mendapatkan rejeki itu bisa jadi karena dia tahan dengan ujiannya yang belum tentu kita sendiri sanggup melewatinya. Atau dia punya rejeki berupa harta yang banyak tapi diberi ujian sakit atau jodoh yang tak kunjung datang, misalnya.
  • Gambaran kehidupan yang kita lihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari hidup mereka.  Masih ada banyak sisi kehidupan mereka di luar itu yang tidak kita ketahui dan belum tentu menyenangkan juga.
  • Jangan lupa, (mungkin pula) ada sisi hidup kita atau rejeki kita yang juga membuat orang lain berandai-andai untuk berada di posisi kita, yang celakanya nikmat itu sampai lupa kita syukuri karena terus menerus melihat rejeki nikmat orang lain.
  • Coba sekali – sekali tuliskan sebanyak mungkin hal-hal yang merupakan rejeki yang kita miliki, bisa berupa barang yang kita miliki, anak-anak yang tumbuh sehat, keluarga yang harmonis, dst…dst…  Dengan sering membaca daftar itu katanya bisa membuat kita merasa lebih mensyukuri apa yang sudah kita punya saat ini.

Tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tahu apa yang telah diambil darinya -NN-

Hm…apa lagi ya kira-kira tipsnya supaya kita ngga menganggap rumput tetangga terlihat lebih hijau? Bagi – bagi yak…. 🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s